Iklim Tropis, Teman atau Lawan

30 Jan 2024
Ivana Adi O.
Close-up doctor with stethoscopee

Perkiraan waktu baca : 2 menit

 

Apa itu Penyakit Tropis?1,2

Penyakit tropis merupakan sebutan bagi kelompok penyakit infeksi yang bervariasi dan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasite yang sering terjadi di wilayah dengan iklim tropis, seperti di Indonesia. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, baik melalui kontak langsung antar-individu maupun melalui vektor seperti nyamuk dan serangga, yang berperan sebagai pembawa penyakit (zoonosis).

Namun bukan hanya faktor mekanisme saja, faktor lingkungan, seperti suhu tinggi, kelembapan, dan curah hujan yang tinggi, juga turut berkontribusi pada tingginya angka kasus penyakit infeksi di daerah tropis. Kebersihan dan sanitasi yang kurang optimal pun dapat menjadi pemicu lainnya, membuat penyakit tropis tetap menjadi sorotan serius di bidang kesehatan.

 

Penyakit Tropis di Indonesia

Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa jenis penyakit tropis mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, diantaranya:

 

  1. Demam berdarah3

    Penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala penyakit ini biasanya muncul 4-6 hari setelah tergigit nyamuk tersebut.

    Berikut ini adalah beberapa gejala penyakit demam berdarah:

    • Demam tinggi.
    • Sakit kepala.
    • Mual dan muntah.
    • Nyeri otot dan tulang.
    • Nafsu makan berkurang.
    • Nyeri di bagian belakang mata.
    • Perdarahan, misalnya gusi berdarah, mimisan, atau mudah memar.
    • Ruam kemerahan (muncul sekitar 2-5 hari setelah demam).

    Untuk mencegah penularan demam berdarah, Anda disarankan untuk menggunakan kelambu dan memasang kasa nyamuk di jendela dan pintu rumah.

    Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk melakukan 3M Plus sebagai langkah pencegahan penyakit demam berdarah, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.


  2. Kaki Gajah4

    Penyakit tropis lain yang masih cukup banyak terjadi di Indonesia adalah kaki gajah atau filariasis. Penyakit ini disebabkan oleh cacing parasit jenis filaria yang juga ditularkan melalui gigitan nyamuk. Ketika masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk, cacing tersebut akan menyumbat aliran getah bening.

    Sebagian penderita penyakit ini tidak mengalami gejala. Namun, sebagian penderita lainnya dapat mengalami gejala berupa demam, pembengkakan di tungkai, dan luka di kulit. Selain di tungkai, pembengkakan juga bisa terjadi di lengan, payudara, dan bahkan organ kelamin.

    Pencegahan penyakit kaki gajah hampir serupa dengan pencegahan penyakit demam berdarah. Hanya saja, pencegahan penyakit ini juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat kaki gajah secara teratur.


  3. Malaria5

    Malaria merupakan salah satu penyakit tropis yang termasuk penyakit endemik di Indonesia. Malaria disebabkan oleh parasit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Gejala malaria akan muncul 10–15 hari setelah tergigit oleh nyamuk. Saat terkena malaria, seseorang dapat merasakan gejala demam, sakit kepala, menggigil, banyak berkeringat, nyeri pada tulang dan otot, mual muntah, dan lemas. Jika tidak diobati, malaria bisa menjadi malaria berat yang menyerang otak.

    Langkah pencegahan penyakit malaria umumnya sama dengan pencegahan demam berdarah, yaitu menjauhi gigitan nyamuk dan mencegah bersarangnya nyamuk di dalam rumah dan sekitarnya.

    Selain itu, langkah pencegahan malaria tambahan bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi obat antimalaria profilaksis, yaitu doksisiklin, sesuai resep dokter.

  4. Skistosomiasis6

    Skistosomiasis adalah salah satu jenis penyakit tropis yang disebabkan oleh cacing parasit skistosoma. Jenis parasit ini banyak ditemukan di kolam, danau, sungai, waduk, atau kanal di daerah tropis atau subtropis.

    Gejala skistosomiasis biasanya akan muncul dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi cacing skistosoma. Beberapa gejala skistosomiasis yang dapat terjadi, antara lain:

    • Pusing
    • Demam
    • Menggigil
    • Muncul ruam merah dan rasa gatal di kulit
    • Batuk
    • Gangguan pencernaan, seperti diare dan nyeri perut
    • Nyeri otot dan sendi

    Jika semakin parah, skistosomiasis bisa menyebabkan gejala yang lebih berat, seperti urine atau tinja yang disertai darah, pembengkakan pada perut, ginjal, atau limpa, dan bahkan kelumpuhan. Untuk mencegah terjadinya penyakit tropis ini, Anda disarankan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar serta menyaring dan memasak air hingga benar-benar matang sebelum diminum.

  5. Infeksi jamur7

    Beberapa jenis infeksi jamur yang sering ditemukan di negara tropis, seperti Indonesia, antara lain jamur kuku, kurap, panu, dan kandidiasis. Infeksi jamur ini bisa terjadi di bagain tubuh mana pun, seperti tangan, kaki, dan wajah.

    Infeksi jamur tersebut dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain:

    • Jaga kebersihan tubuh dengan mandi secara teratur dan mengeringkan tubuh setelahnya.
    • Segera mengeringkan tubuh dan menggati pakaian setiap kali berkeringat.
    • Hindari berbagi penggunaan peralatan pribadi, seperti handuk dan pakaian, dengan orang lain.
    • Gunakan pakaian yang bersih dan mudah menyerap keringat.
    • Kenakan alas kaki di tempat umum atau setiap beraktivitas.
    • Rutin memotong kuku kaki dan tangan.

  6. Tuberkulosis8

    Tuberkulosis atau TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang sering kali menyerang paru-paru ini bisa menular melalui percikan air liur saat penderita TB batuk atau bersin.

    Selain paru-paru, TB juga dapat menyerang organ lain, seperti kelenjar getah bening, otak, tulang, ginjal, saluran pencernaan, dan kulit.

    Penderita TB bisa mengalami gejala berupa penurunan berat badan, keringat dingin, lemas, batuk berdarah, serta batuk yang tidak membaik dalam waktu lebih dari 3 minggu.

     

  7. Kusta9

    Penyakit kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang dan merusak sistem saraf, kulit, mata, dan lapisan mukosa hidung. Bila tidak segera ditangani, kusta bisa menyebabkan kerusakan saraf yang parah hingga menyebabkan kecacatan pada penderitanya.

     

    Beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita kusta antara lain:

    • Kesemutan atau mati rasa
    • Muncul bercak kemerahan atau keputihan di kulit
    • Rontok pada alis dan bulu mata
    • Luka atau borok yang tidak terasa nyeri
    • Kerontokan rambut di bagian tubuh tertentu
    • Nyeri dan pembengkakan di sendi

    Penyakit kusta lebih berisiko dialami oleh orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah serta tinggal di daerah endemik kusta, termasuk Indonesia, India, dan China.

 

Bagaimana Mencegah Penyebaran Penyakit Tropis?

Dalam upaya menekan penyebaran penyakit-penyakit ini, diperlukan kewaspadaan yang tinggi karena penyakit tropis umumnya bersifat mudah menular baik melalui vektor manusia dan binatang. Untuk itu, langkah-langkah pencegahan, seperti penggunaan kelambu, kasa nyamuk, dan praktik 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang), menjadi kunci utama dalam melindungi diri dari ancaman penyakit-penyakit ini.1,2

 

Kesimpulan

Meskipun faktor iklim memicu tingginya kasus penyakit tropis, tindakan preventif yang sederhana, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker, dan tidak membuang sampah sembarangan, dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Segera konsultasikan dengan dokter apabila mengalami gejala penyakit tropis, terutama pada anak-anak yang memerlukan perhatian khusus. Dengan kesadaran dan upaya bersama, kita dapat melangkah lebih jauh untuk menjaga kesehatan kita dan orang yang kita sayangi.

 

Referensi :

  1. Mitra AK, Mawson AR. Neglected Tropical Diseases: Epidemiology and Global Burden. Trop Med Infect Dis. 2017;2(3):36. Published 2017 Aug 5.
  2. Githeko AK, Lindsay SW, Confalonieri UE, Patz JA. Climate change and vector-borne diseases: a regional analysis. Bull World Health Organ. 2000;78(9):1136-47.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019). Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Upaya Pencegahan DBD Dengan 3M Plus.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019). Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk.
  5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2017). Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria.
  6. Nelwan ML. Schistosomiasis: Life Cycle, Diagnosis, and Control. Curr Ther Res Clin Exp. 2019;91:5-9. Published 2019 Jun 22.
  7. Hay R, Denning DW, Bonifaz A, et al. The Diagnosis of Fungal Neglected Tropical Diseases (Fungal NTDs) and the Role of Investigation and Laboratory Tests: An Expert Consensus Report. Trop Med Infect Dis. 2019;4(4):122. Published 2019 Sep 24.
  8. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011). Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
  9. Chen KH, Lin CY, Su SB, Chen KT. Leprosy: A Review of Epidemiology, Clinical Diagnosis, and Management. J Trop Med. 2022;2022:8652062. Published 2022 Jul 4.

 


element element
element grid